[Review] The Way We Were (Laut Senja)

holaaaa kali ini mau ngebahas sepenggal cerita, tapi dikit aja haha dari novel karya Sky Nakayama 

Terbitan Gagasmedia

The Way We Were

(Kita Dulu dan Sekarang)

 2014-02-25 22.00.52

          Aku tahu kamu ragu.

Namun, pertemuan pertama kita… selalu berkesan buatku.
Kamu yang lugu, selalu sibuk dengan pikiranmu.
Laut ada aku disini.
Laki-laki yang selalu suka dengan tawa dan ceitamu.
Juga galaknya kamu, waktu awal bertemu.
Bebaskan hatimu.
Karena air mata tak pernah membuatmu lucu.
Kemarilah dan genggam tanganku.
Untuk segala rasa dan cinta yang ingin berlabuh.

Oke kita mulai dari cerita Laut Senja , Laut adalah seorang gadis dari Jakarta yang kuliah di Bandung, pertemuan pertamanya dengan sosok Oka Satria Adhiyaksa disebuah bis kota Bandung, Laut menganggap Oka pengamen saat itu padahal Oka sedang meminta donasi atas nama kampus, dan Oka pulalah yang mengambil dompet Laut saat dicopet oleh pencuri hingga dia babak belur, Okalah penyelamat bagi Laut. Oka ini tipe implusif kalau kata Kei, Kei itu sahabat Oka dari kecil yang tau luar dalemnya Oka, dan dia juga yang langsung bisa menebak kalau ada seseorang yang menarik perhatian sahabatnya itu. Keseharian Laut yang ceria membuat Oka senang berada disekitarnya, mengajaknya makan bahkan belibur ke Bali di malam Tahun baru. Tapi dibali kecerian Laut sebenarnya dia menyimpan sejuta perih dalam hidupnya, hubungannya dengan ibunya tentu tak seindah bayangannya. Ibunya selalu terkesan tak menginginkan Laut, Laut mempunyai dua kaka, Kak Denis dan Kak Marissa, berbeda dengan sikap ibunya, Ayah Laut sangat menyayaginya. Tapi isu perselingkuhan sang Ayah membuat seisi rumah geger bahkan Lautlah yang menemukan fakta itu didepan matanya. Untunglah Laut mempunyai sahabat seperti Alin yang menemaninya. Hubungan Oka dan Laut dimaknakan Laut hanya sekedar kakak dan adik namun itu berbeda menurut Oka. Alin yang terang-terangan menyukai Kei di depan Laut saat mereka pertama bertemu di Bali. Permasalahan bergulir begitu deras dalam hidup Laut dari mulai dia merasa nyaman dengan Kei dan menyatakan cintanya serta Oka yang mundur perlahan demi kebahagian Laut, ditambah konflik keluarga yang membuat dia hampir gila.

 Menurut w ni novel cukup bagus, ini lebih banyak konflik batin Laut sih terhadap peliknya konflik keluarga antara Ibu dan Ayahnya, serta Ibunya dan Laut sendiri. Tapi yahh w aga kurang paham sama sikap ibunya ke Laut, biar gimanapun Laut itu anaknya yang lahir dari rahim dia, kenapa dia bisa ngebedain Laut sama kakak-kakaknya dan cenderung malah gak suka sama Laut, terlepas dari massa lalu yang akhirnya memunculkan Laut di keluarga itu, tetep aja w pikir yang namanya seorang ibu tuh lebih sayang anaknya dari apapun. Dan tentang konflik perselingkuhan disini tuhh woww,,,nggak nyangka juga sang Ayah bakal ninggalin rumah dan milih buat sama cinta pertamanya yang harus dia lepaskan karna dijodohkan dengan ibu Laut. Pelajaran dari situlah yang membuat Laut dewasa akan cinta.

W kagum juga sama Oka saat dia rela make baju sinterklas buat menghibur Laut buat bikin Laut bisa senyum lagi tapi jlebb bgt pas dateng taunya Laut sama Kei,,, *pukpuk Oka* dan yang pas Oka ditilang ma polisi *ahahahaha koplak bgt asli si Oka* …Oka itu cowo yang bisa dibilang nggak suka mau tau walaupun nggak bisa dipungkirin dia juga kepo, nah Kei ini kebalikan dia tuh rada kepo dan lebih bisa menganalisis keadaan. Trus Alin, w agak sebel juga sama dia waktu Laut kabur dia sebagai sahabat malah cenderung nggak perduli dan ninggalin Laut saat udah ketemu cuman buat marah-marah soal Laut yang suka sama Kei,,, *aduh Alin katanya sahabat tapi gara-gara itu doang kok jadi acuh gitu,,,aku keciwa* dan Kakaknya Laut, Denis dan Marina menurut w juga aga g perhatian sama adenya.. okelah buat novel ini w bakal kasih bintang 3[***] yeayyyy

Terlepas dari itu w suka bgt quote yang ada didalem novel ini ^^ diantaranya *nggak mungkin juga nulis semuanya kan* cekidotttt…

Suka banget kata-kata Oka yang ada dihalaman 241, menurut w dewasa sekali kata-kata ini ^^:

“Jangan manjain hati. Biarlah dia terluka sekali, supaya dia bisa belajar untuk menghargai kebahagian. Supaya dia bisa belajar untuk bangkit kembali setelah sesuatu membuatnya terluka. Biarkan dia dewasa”

Dan quote yang ada di halaman satu:

“Once I wanted to be the geatest Two fists of solid rock with brains that could explaind any feeling”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s