[Review] Gadis Kecil di Tepi Gaza

 

Kali ini gue bakal ngebas novel yang masuk dalam cerita Islami judulnya “Gadis Kecil di Tepi Gaza”. Novel ini ceritanya lagi di pake temen gue buat penelitian skripsinya tentang analisis narasi dan gue embat dulu buat baca ahahaha…tingkyu buat temanku itu yang mau minjemin novelnya disela penulisan skripsi dia ..
image

 

Gadis Kecil di Tepi Gaza

Vanny Chrisma W.

Diva Press

 

 

Palestine seorang gadis berumur 11 tahun yang tinggal di Negara Palestina tepatnya di kota Gaza. Tinggal bersama ayah ibu dan kedua saudaranya, hingga suatu kejadian yang amat mencekam harus memisahkan Palestine dari keluarganya. Agresi militer Israel di tahun 2008 meluluhlantahkan kota Gaza, semua bagunan di hancurkan melalui jalur darat dan udara, tidak terkecual rumah Palestine yang membuatnya harus kehilangan keluarganya di saat sang ayah sedang bertugas. Palestine hanya mengambil cincin milik ibunya agar bisa bertemu kembali dengan ayahnya. Di camp penampungan Palestine cukup tertutup di bantu Yanann seorang pemimpin anak-anak pengungsian di Jabaliya Palestine mempunyai teman ngobrol, serta dia memiliki Adeba, seorang anak berumur 8 tahun yang luar biasa, dia mempunyai kemampuan untuk melihat masa depan atau yang sering disebut dengan indera ke enam. Terbukti saat Adeba mengatakan pada Palestine bahwa sekolah PBB yang sedang mereka pakai untuk belajar akan hancur oleh bom dari militer Israel, awalnya Yanaan tidak percaya namun hal itu terjadi setelah mereka keluar bom itu meluluhlantahkan bagunan PBB yang dibuat untuk mereka. Palestine mempunyai tekad ynag kuat untuk bertemu sang ayah hingga suatu ketika dia ditembak oleh salah satu militer Israel karena kesal akan ucapannya. Palestine pun dilarikan ke rumah sakit dan keadaannya kritis, peristiwa Palestine menjadi headline di mana-mana, sampai akhirnya Ayah Palestine melihat berita itu, ayahnya merupakan kelompok Hamas yang melawan Israel. Ia amat ingin menemui putriinya itu, satu-satunya keluarga yang masih dia miliki. Dengan bantuan temannya ahirnya dia bisa menemui Palestine di rumah sakit,tapi saat ingin mengambil air minum untuk Palestine ayahnya diculik oleh militer Israel karena dicurigai sebagai kelompok Hamas. Perjalanan dan penderitaan yang dialami Palestine tidak lah mudah untuk bertemu sang ayah ditengah agresi militer yang dilakukan Israel secara kejam di Negara itu.

 

Cerita ini luar biasa menggugah, bagaimana gadis berumur 11 tahun sudah harus menghadapi situasi seperti itu, perasaan sedih, marah bercampur saat membacanya. Penulis juga menceritakan bagaimana awal terjadinya agresi militer ini serta jejak Bani Israil pada zaman Nabi. Kekejaman dan kebengisan para tentara Israel tergambar dari cerita ini. Awalnya gue aga takjup liat Palestine, dia umur 11 tahun cara bicara dia layaknya orang dewasa…bukan bicara tentang impiannya, tapi menaruh kemarahannya terhadap Israel…well itu mungkin aja karena keadaan yang membuat dia dewasa sebelum waktunya, berada di tengah konflik peperangan setiap saat memaksanya tumbuh dewasa secara cepat, tekanan batin yang dirasain sama Palestine disini tuh tersampaikan, gimana sakitnya dia melihat keluarganya tak bernyawa di depannya dan kekajam Israel yang membuat dendamnya semakin memuncak pada Negara itu. Keteguhannya yang ingin bertemu dengan Ayahnya dan menyerahkan cincin ibunya. Hmm perjuangan Ayah dan anak ini sungguh buat miris. Yanaan seorang ketua pemuda yang membantu anak-anak pengungsian di Jabaliyah dan sangat memperhatikan keadaan Palestine, terus ada tokoh Adeba seorang gadis kecil yang punya kemampuan melihat masa depan,,,awalnya horor banget sama apa yang di omongin, tapi Yanaan n Palestine lama-lama terbiasa,,,hingga Adeba bilang sama Yanaan “kau akan melihat siapa yang nantinya yang akan tetap hidup dari kita bertiga” hororr Adeba hehe…

W pribadi sebel bgt yah sama kekejaman Israel terhadap negara Palestina….terus jadi inget kata Ayahnya Palestine yang bilang kalau suatu saat Israel dan Palestina berdamai maka akhir dunia semakin dekat ><…dan gue sempet nangis saat baca kata-kata sang dokter saat menasehati seorang ibu yang baru kehilangan anaknya “tidak ada yang tau tentang takdir manusia. Bergembiralah nanti kelak Nyonya di akhirat ada penolong kecil ini yang akan menarikmu masuk ke dalam surga. Dialah penolongmu kelak. Seharusnya kau tidak pelu sesedih itu. Janji Allah tak akan pernah salah”…

 

Puisi Palestine untuk Israel

Palestine, menggugat Israel

Seorang gadis kecil menghadapkan wajahnya,

Mengarah ke atas langit, siang hari,

Tak sepantasnya yang seharusnya dilihat,

Oleh seorang gadis kecil, Palestine…

 

Tak sepantasnya…

Di mana bukanlah lambaian dari layang-layang

Yang dihembuskan ke kanan kiri oleh sang angin,

Tapi, sebuah pesawat besar, yang kata gadis itu

 

Palestine mencerit kuat,

Mengangkat tanganya dan mengongak,

Serunya yang terdengar menggelegar,

“kalian adalah Laknat!”

Seorang gadis kecil sebelas tahun

 

Berteriak, “Laknat untuk Israel!”

Seharusnya ia berkata lain, tentang impiannya…

Tapi, mimpi itu telah kandas, bersamaan dengan datangnya hari ini…

 

Sebelum refugee camp, terkena api, ledakan yang dahsyat…

Palestine, menggugat dunia….

Dan berkata, “Laknat untuk Israel!”

Iklan

2 thoughts on “[Review] Gadis Kecil di Tepi Gaza

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s