[Review] Rembulan di Pinggang Bukit

Assalamualaikum. Yuhuwwww, im back. Akhirnya novel ini sampe dengan selamat sentosa di rumah gue, hehehe. Rembulan di Pinggang Bukit, bercerita tentang anaknya Tsani & Athaya. Yup, masih inget kan siapa mereka^^. Nah, kali ini cerita tentang anak pertama mereka yaitu Mufaisha Rahma Nurpati dan yah, kita bisa liat juga cerita rumah tangga Tsani & Athaya. Yukk mariii

image

Judul: Rembulan di Pinggang Bukit
Karya: Susan Arisanti
Tebal buku: 283 halaman
Tahun Terbit: April 2015
Penerbit: Griya Pustaka

Sinopsis:
Hiperaktif. Sering kena omel. Sadis. Jutek. Tapi, memiliki hati yang lembut. Sebut saja Mufaisha Rahma Nuroati. Usianya 17 tahun, tapi tidak seharipun dia tidak membuat kesal ibunya. Mulai dari kulkas yang rusak, kabel listrik yang di acak-acak, mesin cuci yang ngadat, dan alat elektronik lainnya yang tidak selamat jika disentuh Mufaisha.
Hal yang paling disukai selain dalam laboratorium pribadinya adalah berada di atap. Jangan pikir, atap adalah atap genteng. Apalagi? Tentu saja membuat percobaan “Penghematan Listrik Menggunakan Inverter, Energy Server, Kapasitor dan lain-lain” dan dia lebih suka menyebutnya sebagai ide cerdas saat emak adalah mahluk paling boros listrik sedunia.
Dengan tingkahnya yang luar biasa itu (baca: di luar garis normal) apa dia juga melewati kisah cintanya layaknya virus merah muda yang menyerang setiap remaja normal?
———————————
Eng. Ing. Eng. Yupp, Mufaisha itu emang di atas normal kalo menurut gue. Hahaha, gimana nggak. Di halaman pertama aja kita dah disuguhin sama aksi Icha *panggilan dari keluarga* bikin kulkas tanpa listrik yang buat dapur Tsani jadi amburadul. Kulkas tanpa listrik yang terbuat dari bambu beserta arang. Tentunya membuat Tsani sang Umi geram dan ngomel-ngomel. Nah, di sini hebatnya Icha, dia balikin perkataan Uminya dengan bilang bahwa pada saat kita marah justru setan yang bahagia. Sebab bisa membuat manusia bisa lupa diri dan menyebutkan ayat Al Quran “…dan orang-orang yang menahan marah dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah sangat mencintai orang yang berbuat kebajikan“. Hahaha, dasar si Icha. Icha juga punya tetangga keceh lohh, tetanggan selama 17 tahun dan balkon kamar mereka saling berhadapan. Kazuma L. Tobing yang sering dipanggil Juma, anak dari Revan dan Nami. Si Juma ini sering banget dikatain pentium sama Icha. Yang seru pas Icha ngapalin rumus volta menggunakan jembatan keledai “Kazuma Naksir Hanum Bikin Sengsara. Kalium, Natrium, Hidrogen, Bismut, Strontium“. Manteb nih apalannya^^ . Oia Icha ini dibikinin laboratorium pribadi sama Athaya dengan syarat di siang hari dia bimbel, menjelang malam dia ngaji. Kalo, Juma, di usia mudanya dia suka berjualan di taman dan uangnya dia ahlikan untuk yayasan panti asuhan yang dibuatnya, dia juga penulis lohh. Banyak banget kisah absurd di sini. Mereka sama seperti remaja lainnya, malah Juma manggil Icha dengan sebutan Ai, alasannya biar beda dan menggambil dari kata Mufaisha (bisaan si Juma). Namun, mereka lebih memilih cinta dalam diam. Gue suka banget nasihat ayah Revan tentang menghormati wanita dan Tsani tentang membangun kapasita diri. Saat scene debat Icha dengan Kalila tentang berhijab, jujur ini emang sering kali yang terjadi jika ditanya kenapa belom mau berhijab, pasti jawabannya belom siap. Nah, argumen Icha ini nampar banget dah. Juga saat Icha mencari keberadaan Tuhan yang langsung dicecer sama Juma dengan pengetahuan agamanya. Juma juga suka bangun Icha pas Qiyamul lail dengan mimpuk jendela kamarnya. Yang kocak saat Icha mau ngelakuin penelitian dan bertanya pada Juma tentang kecepatan buang air kecil dari lantai 3 dan 10. Wkwkwkwk, absurd banget ini si Icha. Gue juga suka analogi Icha yang diambil dari hukum bacaan, dia gak mau jadi Idghom, tapi maunya jadi idzhar^^.

Oia, di sini kita bisa ketemu sama Niam dan Maida alias Nawaila waktu kecil. Ihh, lucu banget mereka. Nangis gara-gara layangannya putus, akhirnya dibuatin layangan make batre sama Icha. Kerennn. Gak ketinggalan papah Mandala yang keceh abis tempat curcolnya Icha. Ah, lupa. Icha punya ade kembar. Yup, siapa lagi kalo bukan Miraj dan Thaimiya. Miraj manjanya minta ampun beda sama thaim yang cool. Miraj jago kaligrafi, Thaim jago di hafalan. Ahh, apakah kak Susan bakal bikin cerita si Miraj?  Heehe. Kalo Thaim kan udah muncul di cerita Niam..piuhhpiuhhh~~

Gue rasa nih, cerita mereka bagus dibaca sama remaja. Bagaimana mereka lebih memilih meredam rasa dan membangun kapasitas diri, dari pada terjebak dalam hubungan tidak halal yang menambah dosa. Cerita mereka membuktikan 2 hal. Di dalam ayat Al-Quran mengatakan “lelaki yang baik untuk wanita yang baik, begitupun sebaliknya“. Dan tentunya, jodoh gak akan kemana-^^-.

Gue kasih 4,5 bintang buat cerita ini. Dari segi cover lumayan dibanding yang pertama, hehe. Semoga cover selanjutnya bisa cetar. Ada juga typo, tapi gak fatal. Kak Susan selalu ngambil sudut pandang orang ketiga yang ngebuat kita tau dari segala sisi. Gaya bahasanya khas Susan, kadang gue suka gak paham, macem bahasa tingkat tinggi dan harus baca dua kali buat ngerti :p . Gue selalu suka pembahasan agama di cerita Susan Arisanti. Nambah wawasan lagi deh^^.
Dan di halaman terakhir Juma ngomong “Malaikat cemburu”. Ahh, jadi inget Sedang Malaikat-pun Cemburu. Cerita tentang Ni’am. Gak sabar buat dijadiin novel cetak.

Nah, bagi yang suka banget baca karya-karya Susan Arisanti  selalu bilang kalo mereka jatuh cinta sama karakter Juma dan Harris. Hihi, yah mereka rada mirip sih, tapi gue lebih suka dan paling suka sama karakter Harris, yah dari semua cerita gue bilang karakter Harris ini loveable banget, yang bikin gue berdoa semoga dapet jodoh suami macem Harris, semuanya bilang “aamiin“. Hahaha, suamiable (yah gak, jeng Ila n Ayang), cool di luar tapi warm di dalam, pengetahuan agama dan akademiknya topcer, dan…aduh stopp, tunggu gue dapetin novelnya baru cerita. Hehe

Nah, sekarang saatnya tebar quote…

•Halaman 84 (gue suka nasehat dari ayah Revan ini):
“Kalau kamu nanti jatuh cinta, maka tetapkanlah wanita itu pada hak-nya. Untuk mendapatkan penghormatan, bukan memainkan perasaanya bahkan melecehkannya. Cinta itu adalah komitmen, dan jika kamu berani mengajaknya pacaran, maka kamu harus lebih dulu berani mengatakan bahwa kamu siap menikahinya”.

•Halaman 104 (Postingan Juma):
“Aku sudah melihat jutaan senja, tapi tidak satupun dari mereka yang lebih indah daripada ketika kau memelukku sebagai sore yang sederhana”.

•Halaman 170 (Catatan Juma):
“Cinta yang kusembunyikan ini adalah tanda bahwa aku mencintaimu, juga mencintai Tuhanku lebih dari nyawaku sendiri”.

•Halaman 258 (ini tulisan Tsani buat menghibur dan nyadarin Icha, well gak Icha aja sihh, kita juga):
“Mufaisha putri Umi, apa kabar hatimu? Masihkah ia sebening embun yang merunduk tawadhu di pucuk-pucuk daun? Apa kabar imanmu? Masihkah ia seperti matahari yang terang benderang menerangi kehidupanmu? Dan… apa kabar takwamu? Masihkah ia setegar karang menghadapi gelombang ujian?”

Baiklah, segitu aja dulu. Padahal banyak banget yang gue tandain. Hahaha, yuwiss. Semoga gue cepet dapet bukunya Harris, Niam, and papah Mandala.\^o^/

Wassalamualaikum.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s